Psikologi Kebersihan
cara manusia purba mengelola limbah di perkemahan sementara
Pernahkah kita menatap tumpukan bungkus makanan ringan di meja kerja, lalu mendadak merasa risih dan ingin segera membuangnya? Dorongan itu kadang datang begitu saja. Padahal, sepuluh menit yang lalu kita masih merasa nyaman-nyaman saja. Mari kita simpan rasa risih itu sebentar. Sekarang, saya ingin mengajak teman-teman mundur jauh ke masa lalu. Sangat jauh. Tepatnya ke zaman ketika kita belum mengenal sapu, tempat sampah plastik, apalagi layanan pengangkut sampah.
Bayangkan kita adalah sekelompok manusia purba pengembara (hunter-gatherer). Kita mendirikan perkemahan sementara di dekat sungai. Rencananya, kita hanya menetap di sana selama dua minggu sebelum bergerak lagi mengikuti arah migrasi hewan buruan. Logika sederhananya begini: kalau kita cuma numpang lewat, buat apa repot-repot memikirkan kebersihan? Buang saja sisa tulang, kulit buah, atau kotoran di tempat kita duduk. Toh, sebentar lagi kita akan pergi meninggalkannya. Namun, sejarah dan sains menunjukkan fakta yang berkebalikan. Nenek moyang kita ternyata sangat peduli pada tata letak limbah mereka. Pertanyaannya, mengapa mereka mau repot-repot membersihkan tempat yang toh akan segera ditinggalkan?
Untuk menjawabnya, kita harus memahami tekanan hidup di masa itu. Kehidupan nomaden bukanlah agenda camping akhir pekan yang santai. Ini adalah urusan hidup dan mati. Sisa bangkai hewan buruan yang dibiarkan menumpuk di tengah perkemahan akan membusuk dengan cepat. Bau anyir darah dan daging busuk adalah undangan terbuka bagi predator besar seperti saber-toothed cat atau kawanan serigala beringas.
Lebih dari itu, ada ancaman yang tidak bisa mereka lihat dengan mata telanjang. Lalat, belatung, dan parasit yang berkembang biak di tumpukan sampah membawa penyakit mematikan. Infeksi kecil pada saluran pencernaan di zaman itu bisa berarti akhir dari segalanya. Masalahnya, nenek moyang kita sama sekali belum mengenal teori kuman (germ theory). Mereka tidak punya mikroskop untuk melihat bakteri. Mereka tidak tahu apa itu virus. Jika mereka tidak memiliki pengetahuan medis sama sekali, bagaimana mereka tahu bahwa sampah itu berbahaya dan harus disingkirkan dari ruang tidur mereka?
Di sinilah letak misterinya. Jika bukan karena ilmu pengetahuan, pasti ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang tertanam jauh di dalam perangkat keras otak manusia. Sesuatu yang bekerja layaknya alarm otomatis, berdering kencang setiap kali kita berdekatan dengan hal-hal yang berpotensi membawa penyakit.
Teman-teman, mari kita renungkan sejenak. Apa yang kita rasakan saat mencium bau susu yang sudah basi? Atau saat melihat makanan yang dipenuhi belatung? Kita mungkin akan mundur selangkah, mengernyitkan dahi, dan merasa mual. Perasaan ini sangat kuat, universal, dan muncul tanpa perlu kita pikirkan panjang lebar. Emosi ini seolah-olah mengambil alih kendali tubuh kita secara paksa. Ia tidak peduli apakah kita sedang berada di apartemen mewah masa kini atau di gua batu ribuan tahun lalu. Ada sebuah mekanisme psikologis tersembunyi yang menjadi jembatan antara ketidaktahuan manusia purba dan keselamatan nyawa mereka.
Jawabannya adalah sebuah emosi yang sangat sering kita anggap remeh: rasa jijik (disgust).
Dalam dunia psikologi evolusioner, rasa jijik tidak sekadar dianggap sebagai reaksi emosional biasa. Para ilmuwan menyebutnya sebagai sistem imun perilaku (behavioral immune system). Jika sel darah putih bertugas menyerang kuman yang sudah masuk ke dalam tubuh, maka rasa jijik bertugas mencegah kita berdekatan dengan kuman tersebut sejak awal. Rasa jijik adalah perisai pertama kita. Nenek moyang kita mungkin tidak tahu apa itu bakteri kolera, tetapi otak mereka memicu rasa jijik saat mencium bau kotoran atau daging busuk, memaksa mereka menjauh.
Bukti dari "psikologi kebersihan" ini terekam jelas dalam catatan arkeologi. Para peneliti menemukan bahwa di perkemahan sementara era Paleolitikum, manusia purba sudah menerapkan organisasi spasial (spatial organization). Mereka tidak membuang sampah sembarangan. Mereka sengaja membuat area pembuangan khusus yang disebut midden (tumpukan limbah kuno). Jaraknya diukur sedemikian rupa—cukup jauh dari area api unggun tempat mereka tidur dan makan, namun tidak terlalu jauh sampai membahayakan diri di luar batas perkemahan. Mereka bahkan memperhitungkan arah angin agar bau busuk dari midden tidak tertiup kembali ke tengah kemah. Semua kecerdasan tata ruang ini bukan dipandu oleh dinas tata kota, melainkan oleh rasa jijik bawaan yang terus berevolusi demi kelangsungan spesies kita.
Kenyataan ini membuat kita melihat sejarah manusia dengan kacamata yang jauh lebih hangat. Ternyata, dorongan untuk menata ruang dan menjaga kebersihan bukanlah produk dari peradaban modern atau aturan sopan santun belaka. Ia adalah warisan insting bertahan hidup yang mengalir deras dalam darah kita.
Jadi, saat teman-teman kelak merasa lelah dan tiba-tiba tergerak untuk membersihkan tumpukan kardus atau merapikan meja yang berantakan, sadarilah satu hal yang indah. Kita tidak sekadar sedang bersih-bersih. Pada detik itu, kita sedang memutar kembali kaset lama dari ribuan tahun yang lalu. Kita sedang mendengarkan bisikan genetis dari nenek moyang kita yang berbisik lembut, "Bersihkanlah tempat ini, karena kita berhak hidup aman dan nyaman." Kebersihan, pada akhirnya, adalah bukti seberapa besar cinta evolusi pada keberadaan kita.